Jumat, 24 Maret 2023

Pelajaran Yang Bisa di Ambil dari Kisah Harut dan Marut

 Harut dan Marut adalah dua malaikat yang disebutkan dalam Al-Quran yang terkait dengan kisah pengajaran tentang sihir. Menurut sejarah Islam, kisah Harut dan Marut bermula ketika para malaikat mempertanyakan kebijakan Allah SWT untuk menciptakan manusia. Mereka tidak mengerti mengapa Allah SWT menciptakan manusia yang akan menimbulkan kekacauan di bumi.


Allah SWT kemudian memberikan jawaban yang mengejutkan kepada para malaikat. Ia menjelaskan bahwa manusia memiliki potensi untuk menjadi makhluk yang baik dan taat kepada-Nya, namun mereka juga dapat menjadi makhluk yang jahat dan durhaka. Oleh karena itu, Allah SWT memberikan kebebasan kepada manusia untuk memilih jalannya sendiri di dunia.


Ketika para malaikat masih bingung tentang kebijakan Allah SWT, Allah SWT kemudian memberitahu mereka tentang Harut dan Marut. Kedua malaikat ini diutus ke bumi sebagai pengajar dan pelindung bagi manusia. Mereka diajarkan tentang ilmu sihir sehingga manusia bisa membedakan antara sihir yang benar dan sihir yang salah.


Namun, para penduduk bumi yang tidak taat kepada Allah SWT memanfaatkan ilmu sihir yang mereka pelajari dari Harut dan Marut untuk melakukan kejahatan. Mereka menggunakan sihir untuk menciptakan kerusakan dan kekacauan di bumi.


Ketika Harut dan Marut menyadari bahwa manusia menyalahgunakan ilmu sihir tersebut, mereka mengajarkan manusia untuk menghindari sihir dan mematuhi perintah Allah SWT. Namun, banyak manusia yang tetap tidak taat dan terus menggunakan sihir untuk tujuan kejahatan.


Dalam sejarah Islam, kisah Harut dan Marut mengajarkan kita tentang pentingnya mematuhi perintah Allah SWT dan menjauhi segala bentuk kejahatan. Kisah ini juga mengajarkan kita bahwa ilmu bisa digunakan untuk kebaikan dan kejahatan, dan manusia harus memilih dengan bijak bagaimana mereka menggunakan ilmu tersebut.


Meskipun kisah Harut dan Marut terkait dengan ilmu sihir, sebagian ulama menyatakan bahwa kisah ini tidak bermaksud untuk membenarkan praktik sihir. Sebaliknya, kisah ini bertujuan untuk mengajarkan manusia tentang kebijaksanaan dan menjaga kesucian ajaran agama.


Terlepas dari berbagai penafsiran tentang kisah Harut dan Marut, yang pasti adalah kisah ini memiliki makna yang penting untuk dipahami oleh umat Muslim. Dalam Al-Quran, kisah Harut dan Marut diceritakan dalam Surah Al-Baqarah ayat 102 yang berbunyi:


"Dan mengikuti apa yang dibaca oleh dua malaikat di kota Babel, Harut dan Marut, yang mengajarkan kepada manusia sihir dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat di negeri-lainnya, yakni Habil dan Qabil. Dan mereka (Habil dan Qabil) tidak mengajarkan (sihir) itu kepada seorang pun sebelum mereka berkata, 'Sesungguhnya kami hanya cobaan, maka janganlah kamu kafir'."


Dari ayat tersebut, kita dapat belajar bahwa Allah SWT memberikan manusia kebebasan untuk memilih dan menentukan nasibnya sendiri di dunia. Namun, manusia juga harus bertanggung jawab atas tindakan mereka dan menghindari segala bentuk kejahatan, termasuk sihir.


Selain itu, kisah Harut dan Marut juga mengajarkan kita tentang pentingnya menghindari godaan dan mengikuti perintah Allah SWT. Seperti yang dilakukan oleh Harut dan Marut ketika mereka menyadari bahwa manusia menyalahgunakan ilmu sihir yang mereka ajarkan, mereka segera memperingatkan manusia tentang bahaya sihir dan mengajarkan manusia untuk mematuhi perintah Allah SWT.


Dengan demikian, kisah Harut dan Marut menjadi salah satu kisah penting dalam sejarah Islam yang mengajarkan nilai-nilai moral dan etika yang penting bagi umat Muslim untuk dipahami dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.


Selain itu, kisah Harut dan Marut juga mengajarkan pentingnya menjaga kesucian ajaran agama. Meskipun ilmu sihir dapat dipelajari, manusia harus memahami bahwa segala bentuk ilmu harus digunakan untuk kebaikan dan mematuhi perintah Allah SWT. Jika digunakan untuk tujuan kejahatan, maka ilmu tersebut bisa menjadi sumber kerusakan dan kekacauan di bumi.


Kisah Harut dan Marut juga mengajarkan tentang kebijaksanaan dan kearifan dalam bertindak. Sebagaimana Harut dan Marut mengajarkan manusia tentang ilmu sihir, mereka juga mengajarkan manusia untuk memilih dengan bijak bagaimana mereka menggunakan ilmu tersebut. Dalam hal ini, manusia harus memahami bahwa setiap tindakan yang dilakukan memiliki konsekuensi, baik itu konsekuensi positif maupun negatif.


Terakhir, kisah Harut dan Marut juga mengajarkan kita tentang pentingnya keberanian dalam menghadapi godaan dan ujian hidup. Seperti yang dilakukan oleh Harut dan Marut ketika mereka mengajarkan manusia tentang ilmu sihir, mereka harus memiliki keberanian dan tekad yang kuat dalam melaksanakan tugas yang diberikan oleh Allah SWT.


Secara keseluruhan, kisah Harut dan Marut merupakan bagian penting dari sejarah Islam yang mengandung nilai-nilai moral dan etika yang penting bagi umat Muslim. Melalui kisah ini, umat Muslim diajarkan untuk memahami pentingnya mematuhi perintah Allah SWT, menghindari segala bentuk kejahatan, menjaga kesucian ajaran agama, bijaksana dan berani dalam menghadapi godaan dan ujian hidup. Semua nilai ini penting untuk dijadikan panduan dalam kehidupan sehari-hari umat Muslim.


#KisahHarutdanMarut #MaknaMoralIslami #KisahDalamAlQuran #KeberanianDanKebijaksanaan #KesucianAjaranAgama #Nilai-nilaiMoralIslami #PentingnyaMematuhiPerintahAllah #HindariSegalaBentukKejahatan #TugasUmatMuslim #BeraniMenghadapiGodaan #UjianHidup #SejarahIslam #AlQuran #HikmahKisahHarutdanMarut

Senin, 15 Februari 2016

Tahapan-Tahapan Tasawuf



                                         Tahapan-Tahapan Tasawuf
 
Sebagai bahan untuk memahami mengenai tahapan-tahapan
Tasawuf, kami memuat tulisan tulisan Drs. Mahjuddin, dosen tetap pada
Fakultas Tarbiyah Jember, IAIN "Sunan Ampel" dalam bukunya "Kuliah
Akhlaq-Tasawuf" dan diterbitkan oleh Penerbit Kalam Mulia, Jakarta Pusat 10560
 
Tahapan-Tahapan Tasawuf
 
      Ada empat macam tahapan yang harus dilalui oleh hamba yang menekuni ajaran
Tasawuf untuk mencapai suatu tujuan yang disebutnya sebagai "As-Sa'aadah"
menurut Al-Ghazaliy dan Al-Insaanul Kaamil" menurut Muhyddin bin 'Arabiy.
Keempat tahapan itu terdiri dari Syari'at, Tarekat, Hakikat dan Marifat.
      Dari tahapan-tahapan tersebut, dapat dikemukakan penjabarannya sebagai
berikut:
 
1.Syariat
 
      Istilah syari'at, dirumuskan definisinya oleh As-Sayyid Abu Bakar
Al-Ma'ruf dengan mengatakan: "Syari'at adalah suruhan yang telah diperintahkan
oleh Allah, dan larangan yang telah dilarang oleh-Nya."
 
      Kemudian Asy-Syekh Muhammad Amin AL-Kurdiy
mengatakan:
"Syari'at adalah hukum-hukum yang telah diturunkan kepada Rasulullah SAW., yang
telah ditetapkan oleh Ulama (melalui) sumber nash Al-Qur'an dan Sunnah ataupun
dengan (cara) istirahat: yaitu hukum-hukum yang telah diternagkan dalam ilmu
Tauhid, Ilmu Fiqh dan Ilmu Tasawuf."
 
      Hukum-hukum yang dimaksud oleh Ulama Tauhid;
meliputi keimanan kepada Allah, malaikat-Nya, Kitab Suci-Nya, Rasul-Nya, Hari
Akhirat, Qadha dan Qadar-Nya; dalam bentuk ketaqwaan dengan dinyatakan dalam
perbuatan Ma'ruf yang mengandung hukum wajib, sunat dan mubah; dan
meninggalkan mungkarat yang mengandung hukum haram dan makruh.
 
      Dan hukum-hukum yang dimaksudkan oleh Fuqaha, meliputi seluruh perbuatan
manusia dalam hubungannya dengan Tuhan-nya; yang disebut "ibadah mahdhah" atau
taqarrub (ibadah murni atau ibadah khusus) serta hubungannya dengan sesama
manusia dan makhluk lainnya, yang disebut "ibadah ghairu mahdhah" atau "ammah"
(ibadah umum).
 
      Kemudian hukum-hukum yang dimaksudkan oleh Ulama Tasawuf, yang meliputi
sikap dan perilaku manusia, yang berusaha membersihkan dirinya dari hadats dan
najis serta maksiat yang nyata dengan istilah "At-Takhali". Lalu berusaha
melakukan kebaikan yang nyata untuk menanamkan pada dirinya kebiasaan-kebiasaan
terpuji, dengan istilah "At-Thalli".
 
      Bila syari'at diartikan secara sempit, sebagaimana dimaksudkan dalam
pembahasan ini, maka hanya meliputi perbuatan yang nyata, karena perbuatan yang
tidak nyata (perbuatan hati), menjadi lingkup pembahasan Tarekat. Oleh karena
itu, penulis hanya mengemukakan perbuatan-perbuatan lahir, misalnya perbuatan
manusia yang merupakan penomena keimanan, yang telah dibahas dalam Ilmu Tauhid.
Penomena keimanan itu, terwujud dalam bentuk perbuatan ma'ruf dan menjauhi yang
mungkar.
 
 
 
2. Tarekat
 
Istilah Tarekat berasal dari kata Ath-Thariq (jalan) menuju kepada Hakikat
atau dengan kata lain pengalaman Syari'at, yang disebut "Al-Jaraa" atau
"Al-Amal", sehingga Asy-Syekh Muhammad Amin Al-Kurdiy mengemukakan tiga
macam definisi, yang berturut-turut disebutkan:
 
1) Tarekat adalah pengamalan syari'at, melaksanakan beban ibadah (dengan
tekun) dan menjauhkan (diri) dari (sikap) mempermudah (ibadah), yang
sebenarnya memang tidak boleh dipermudah.
 
2) Tarekat adalah menjauhi larangan dan melakukan perintah Tuhan sesuai
dengan kesanggupannya; baik larangan dan perintah yang nyata, maupun yang
tidak (batin).
 
3) Tarekat adalah meninggalkan yang haram dan makruh, memperhatikan hal-hal
mubah (yang sifatnya mengandung) fadhilat, menunaikan hal-hal yang
diwajibkan dan yang disunatkan, sesuai dengan kesanggupan (pelaksanaan) di
bawah bimbingan seorang Arif (Syekh) dari (Shufi) yang mencita-citakan
suatu tujuan.
 
Menurut L. Massignon, yang pernah mengadakan penelitian terhadap kehidupan
Tasawuf di beberapa negara Islam, menarik suatu kesimpulan bahwa istilah
Tarekat mempunyai dua macam pengertian.
 
a) Tarekat yang diartikan sebagai pendidikan kerohanian yang sering
dilakukan oleh orang-orang yang menempuh kehidupan Tasawuf, untuk mencapai
suatu tingkatan kerohanian yang disebut "Al-Maqamaat"
dan "Al-Ahwaal".
 
b) Tarekat yang diartikan sebagai perkumpulan yang didirikan menurut ajaran
yang telah dibuat seorang Syekh yang menganut suatu aliran Tarekat tertentu.
Maka dalam perkumpulan itulah seorang Syekh mengajarkan Ilmu Tasawuf menurut
aliran Tarekat yang dianutnya, lalu diamalkan bersama dengan murid-muridnya.
 
Dari pengertian diatas, maka Tarekat itu dapat dilihat dari dua sisi; yaitu
amaliyah dan perkumpulan (organisasi). Sisi amaliyah merupakan latihan
kejiwaan (kerohanian); baik yang dilakukan oleh seorang, maupun secara
bersama-sama, dengan melalui aturan-aturan tertentu untuk mencapai suatu
tingkatan kerohanian yang disebut "Al-Maqaamaat" dan "Al-Akhwaal", meskipun
kedua istilah ini ada segi prbedaannya. Latihan kerohanian itu, sering juga
disebut "Suluk", maka pengertian Tarekat dan Suluk adalah sama, bila dilihat
dari sisi amalannya (prakteknya). Tetapi kalau dilihat dari sisi
organisasinya (perkumpulannya), tentu saja pengertian Tarekat dan Suluk
tidak sama.
 
Kembali kepada masalah Al-Maqaamaat dan Al-Akhwaal, yang dapat dibedakan
dari dua segi:
 
a). Tingkat kerohanian yang disebut maqam hanya dapat diperoleh dengan cara
pengamalan ajaran Tasawuf yang sungguh-sungguh. Sedangkan ahwaal, di
samping dapat diperoleh manusia yang mengamalkannya, dapat juga diperoleh
manusia hanya karena anugrah semata-mata dari Tuhan, meskipun ia tidak
pernah mengamalkan ajaran Tasawuf secara sungguh-sungguh.
 
b) Tingkatan kerohanian yang disebut maqam sifatnya langgeng atau bertahan
lama, sedangkan ahwaal sifatnya sementara; sering ada pada diri manusia,
dan sering pula hilang. Meskipun ada pendapat Ulama Tasawuf yang mengatakan
bahwa maqam dan ahwaal sama pengertiannya, namun penulis mengikuti pendapat
yang membedakannya beserta alasan-alasannya.
 
Tentang jumlah tingkatan maqam dan ahwaal, tidak disepakati oleh Ulama
Tasawuf. Abu Nashr As-Sarraaj  mengatakan bahwa tingkatan maqam ada tujuh,
sedangkan tingkatan ahwaal ada sepuluh.
 
Adapun tingkatan maqam menurut Abu Nashr As-Sarraj, dapat disebutkan
sebagai berikut:
 
a). Tingkatan Taubat (At-Taubah);
b)  Tingkatan pemeliharaan diri dari perbuatan yang haram dan yang makruh,
     serta yang syubhat (Al-Wara');
c). Tingkatan meninggalkan kesenangan dunia (As-Zuhdu).
d)  Tingkatan memfakirkan diri (Al-Faqru).
e). Tingkatan Sabar (Ash-Shabru).
f). Tingkatan Tawakkal (At-Tawakkul).
g). Tingkatan kerelaaan (Ar-Ridhaa).
 
Mengenai tingkatan hal (al-ahwaal) menurut Abu Nash As Sarraj, dapat
dikemukakan sebagai berikut;
 
a). Tingkatan Pengawasan diri (Al-Muraaqabah)
b). Tingkatan kedekatan/kehampiran diri (Al-Qurbu)
c). Tingkatan cinta (Al-Mahabbah)
d). Tingkatan takut (Al-Khauf)
e). Tingkatan harapan (Ar-Rajaa)
f). Tingkatan kerinduan (Asy-Syauuq)
g). Tingkatan kejinakan atau senang mendekat kepada perintah Allah
     (Al-Unsu).
h). Tingkatan ketengan jiwa (Al-Itmi'naan)
i). Tingkatan Perenungan  (Al-Musyaahaah)
j). Tingkatan kepastian (Al-Yaqiin).
 
 
 
Hakikat :
 
Istilah hakikat berasal dari kata Al-Haqq, yang berarti kebenaran. Kalau
dikatakan Ilmu Hakikat, berarti ilmu yang digunakan untuk mencari suatu
kebenaran. Kemudian beberapa ahli merumuskan definisinya sebagai berikut:
 
a. Asy-Syekh Abu Bakar Al-Ma'ruf mengatkan :
 
"Hakikat adalah (suasana kejiwaan) seorang Saalik (Shufi) ketika ia mencapai
suatu tujuan ...sehingga ia dapat menyaksikan (tanda-tanda) ketuhanan dengan
mata hatinya".
 
b. Imam Al-Qasyairiy mengatakan:
 
"Hakikat adalah menyaksikan sesuatu yang telah ditentukan, ditakdirkan,
disembunyikan (dirahasiakan) dan yang telah dinyatakan (oleh Allah kepada
hamba-Nya".
 
Hakikat yang didapatkan oleh Shufi setelah lama menempuh Tarekat dengan selalu
menekuni Suluk, menjadikan dirinya yakin terhadap apa yang dihadapinya. Karena
itu, Ulama Shufi sering mengalami tiga macam tingkatan keyakinan:
 
1) "Ainul Yaqiin; yaitu tingkatan keyakinan yang ditimbulkan oleh pengamatan
indera terhadap alam semesta, sehingga menimbulkan keyakinan tentang kebenaran
Allah sebagai penciptanya;
 
2) "Ilmul Yaqiin; yaitu tingkatan keyakinan yang ditimbulkan oleh analisis
pemikiran ketika melihat kebesaran Allah pada alam semesta ini.
 
3) "Haqqul Yaqqin; yaitu suatu keyakinan yang didominasi oleh hati nurani Shufi
tanpa melalui ciptaan-Nya, sehingga segala ucapan dan tingkah lakunya
mengandung nilai ibadah kepada Allah SWT. Maka kebenaran Allah langsung
disaksikan oleh hati, tanpa bisa diragukan oleh keputusan akal".
 
Pengalaman batin yang sering dialami oleh Shufi, melukiskan bahwa betapa erat
kaitan antara hakikat dengan mari"fat, dimana hakikat itu merupakan tujuan awal
Tasawuf, sedangkan ma'rifat merupakan tujuan akhirnya.
 
 
Marifat :
 
Istilah Ma'rifat berasal dari kata "Al-Ma'rifah" yang berarti mengetahui atau
mengenal sesuatu. Dan apabila dihubungkan dengan pengamalan Tasawuf, maka
istilah ma'rifat di sini berarti mengenal Allah ketika Shufi mencapai maqam
dalam Tasawuf.
 
Kemudian istilah ini dirumuskan definisinya oleh beberapa Ulama Tasawuf; antara
lain:
 
a. Dr. Mustafa Zahri mengemukakan salah satu pendapat Ulama Tasawuf yang
mengatakan:
 
"Marifat adalah ketetapan hati (dalam mempercayai hadirnya) wujud yang wajib
adanya (Allah) yang menggambarkan segala kesempurnaannya."
 
b. Asy-Syekh Ihsan Muhammad Dahlan Al-Kadiriy mengemukakan pendapat Abuth
Thayyib As-Saamiriy yang mengatakan:
 
"Ma'rifat adalah hadirnya kebenaran Allah (pada Shufi)...dalam keadaan hatinya
selalu berhubungan dengan Nur Ilahi..."
 
c. Imam Al-Qusyairy mengemukakan pendapat Abdur Rahman bin Muhammad bin
Abdillah yang mengatakan:
 
"Ma'rigfat membuat ketenangan dalam hati, sebagaimana ilmu pengetahuan membuat
ketenangan (dalam akal pikiran). Barangsiapa yang meningkat ma'rifatnya, maka
meningkat pula ketenangan (hatinya)."
 
Tidak semua orang yang menuntut ajaran Tasawuf dapat sampai kepada tingkatan
ma'rifat. Karena itu, Shufi yang sudah mendapatkan ma'rifat, memiliki
tanda-tanda tertentu, sebagaimana keterangan Dzuun Nuun Al-Mishriy yang
mengatakan; ada beberapa tanda yang dimiliki oleh Shufi bila sudah sampai
kepada tingkatan ma'rifat, antara lain:
 
a. Selalu memancar cahaya ma'rifat padanya dalam segala sikap dan perilakunya.
Karena itu, sikap wara' selalu ada pada dirinya.
 
b. Tidak menjadikan keputusan pada sesuatu yang berdasarkan fakta yang bersifat
nyata, karena hal-hal yang nyata menurut ajaran Tasawuf, belum tentu benar.
 
c. Tidak menginginkan nikmat Allah yang banyak buat dirinya, karena hal itu
bisa membawanya kepada perbuatan yang haram.
 
         Dari sinilah kita dapat melihat bahwa seorang Shufi tidak membutuhkan
kehidupan yang mewah, kecuali tingkatan kehidupan yang hanya sekedar dapat
menunjang kegiatan ibadahnya kepada Allah SWT., sehingga Asy-Syekh Muhammad bin
Al-Fadhal mengatakan bahwa ma'rifat yang dimiliki Shufi, cukup dapat memberikan
kebahagiaan batin padanya, karena merasa selalu bersama-sama dengan Tuhan-nya.
 
         Begitu rapatnya posisi hamba dengan Tuhan-nya ketika mencapai tingkat
ma'rifat, maka ada beberapa Ulama yang melukiskannya sebagai berikut:
 
a. Imam Rawiim mengatakan, Shufi yang sudah mencapai tingkatan ma'rifat,
bagaikan ia berada di muka cermin; bila ia memandangnya, pasti ia melihat Allah
di dalamnya. Ia tidak akan melihat lagi dirinya dalam cermin, karena ia sudah
larut (hulul) dalam Tuhan-nya. Maka tiada lain yang dilihatnya dalam cermin,
kecuali hanya Allah SWT saja.
 
b. Al-Junaid Al-Bahdaadiy mengatakan, Shufi yang sudah mencapai tingkatan
ma'rifat, bagaikan sifat air dalam gelas, yang selalu menyerupai warna
gelasnya. Maksudnya, Shufi yang sudah larut  (hulul) dalam Tuhan-nya selalu
menyerupai sifat-sifat dan kehendak-Nya. Lalu dikatakannya lagi bahwa seorang
Shufi, selalu merasa menyesal dan tertimpa musibah bila suatu ketika ingatannya
kepada Allah terputus meskipun hanya sekejap mata saja.
 
c. Sahal bin Abdillah mengatakan, sebenarnya puncak ma'rifat itu adalah keadaan
yang diliputi rasa kekagumam dan keheranan ketika Shufi bertatapan dengan
Tuhan-nya, sehingga keadaan itu membawa kepada kelupaan dirinya.
 
         Keempat tahapan yang harus dilalui oleh Shufi ketika menekuni ajaran
Tasawuf, harus dilaluinya secara berurutan; mulai dari Syariat, Tarekat,
Hakikat dan Ma'rifat. Tidak mungkin dapat ditempuh secara terbalik dan tidk
pula secara terputus-putus.
 
         Dengan cara menempuh tahapan Tasawuf yang berurutan ini, seorang hamba
tidak akan mengalami kegagalan dan tidak pula mengalami kesesatan.

Sabtu, 13 Februari 2016

Kitab Penyusuan

Kitab Penyusuan


1. Saudara sepenyusuan haram seperti saudara seperanakan
  • Hadis riwayat Aisyah ra.:
    Bahwa Rasulullah saw. suatu hari sedang berada di sisinya lalu Aisyah mendengar seseorang datang meminta izin memasuki rumah Hafshah. Aisyah ra. berkata: Lalu aku berkata: Wahai Rasulullah, ada seorang lelaki meminta izin memasuki rumahmu. Rasulullah saw. menjawab: Orang itu adalah si fulan, saudara paman Hafshah sepenyusuan. Maka Aisyah bertanya: Wahai Rasulullah, seandainya si fulan (pamannya sepenyusuan) masih hidup, tentunya ia boleh menemuiku? Rasulullah saw. menjawab: Ya. Karena sesungguhnya penyusuan itu dapat menjadikan mahram seperti seperanakan. (Shahih Muslim No.2615)
2. Pengharaman sepenyusuan dari pihak lelaki
  • Hadis riwayat Aisyah ra.:
    Bahwa Aflah, saudara Abul Qu`ais, yakni paman sepersusuannya, datang minta izin menemui Aisyah setelah turun ayat hijab. Aisyah ra. berkata: Tetapi aku tidak memberinya izin. Dan ketika Rasulullah saw. datang, aku ceritakan apa yang telah aku lakukan itu. Ternyata beliau menyuruhku untuk memberinya izin menemuiku. (Shahih Muslim No.2617)
3. Haram mengawini anak perempuan saudara lelaki sepersusuan
  • Hadis riwayat Ibnu Abbas ra.:
    Bahwa Nabi saw. hendak dijodohkan dengan putri Hamzah. Akan tetapi beliau bersabda: Sesungguhnya ia tidak halal bagiku karena sesungguhnya ia adalah putri saudara lelaki sepersusuanku sendiri. Yang haram disebabkan persusuan itu sama seperti yang haram dari jalur nasab keturunan keluarga. (Shahih Muslim No.2624)
4. Haram menikahi anak tiri dan saudara kandung istri
  • Hadis riwayat Ummu Habibah binti Abu Sufyan ra., ia berkata:
    Saat Rasulullah saw. menemuiku, aku berkata kepada beliau: Wahai Rasulullah, apakah engkau berminat terhadap saudara perempuanku, yaitu putri Abu Sufyan? Rasulullah saw. balik bertanya: Maksudmu, apa yang harus aku lakukan? Aku menjawab: Engkau menikahinya. Rasulullah saw. bertanya: Apakah kamu menyukai hal itu? Aku menjawab: Aku bukanlah istrimu satu-satunya dan orang yang paling aku senangi untuk sama-sama berbagi kebajikan ini adalah saudaraku. Rasulullah bersabda: Saudara perempuanmu itu tidak halal bagiku. Lalu aku katakan lagi kepada beliau: Aku dengar engkau melamar Durrat binti Abu Salamah? Beliau berkata: Putri Ummu Salamah? Aku menjawab: Ya. Beliau bersabda: Kalau ia bukan anak tiri yang berada dalam asuhanku, maka ia tidak halal bagiku karena ia adalah anak perempuan saudaraku sepersusuan, sebab aku dan bapaknya telah disusui oleh Tsuwaibah. Maka janganlah kamu menawarkan kepadaku putri-putrimu ataupun saudara-saudara perempuanmu. (Shahih Muslim No.2626)
5. Tentang menyusui orang dewasa
  • Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata:
    Sahlah binti Suhail datang kepada Nabi saw. dan berkata: Wahai Rasulullah, aku melihat perubahan air muka Abu Hudzaifah setiap kali Salim menemuiku, padahal ia adalah anak asuhnya. Nabi saw. lalu bersabda: Kalau begitu, susuilah ia! Sahlah bertanya: Bagaimana aku menyusuinya, sedang ia adalah orang dewasa? Rasulullah saw. tersenyum lalu bersabda: Aku juga tahu bahwa ia sudah besar. Amru menambahkan dalam hadisnya bahwa ia telah ikut dalam perang Badar. Dan dalam riwayat Ibnu Abu Umar: Lalu Rasulullah saw. tertawa. (Shahih Muslim No.2636)
6. Penyusuan hanya disebabkan karena kelaparan
  • Hadis riwayat Aisyah ra.:
    Aisyah berkata: Rasulullah saw. datang menemuiku pada saat seorang lelaki lain sedang duduk. Hal itu terasa berat sekali di hati beliau dan aku juga melihat kemarahan di wajahnya. Aisyah berkata: Lalu aku katakan: Wahai Rasulullah, sesungguhnya ia adalah saudaraku sepenyusuan. Aisyah melanjutkan: Lalu beliau bersabda: Lihatlah lagi saudara-saudara lelakimu yang sepenyusuan, karena sesungguhnya saudara sepenyusuan itu hanya karena sebab rasa lapar. (Shahih Muslim No.2642)
7. Anak adalah dari perkawinan yang sah (tempat tidur) dan menghindari perkara-perkara yang meragukan
  • Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata:
    Sa`ad bin Abu Waqqash dan Abdu bin Zam`ah terlibat perselisihan mengenai seorang anak. Kata Sa`ad: Ini adalah anak saudaraku `Utbah bin Abu Waqqash, yang dia amanatkan kepadaku, dia adalah putranya, perhatikanlah kemiripannya! Abdu bin Zam`ah menyangkal dan mengatakan: Dia ini saudaraku, wahai Rasulullah! Dia lahir di atas tempat tidur ayahku dari budak perempuannya. Sejenak Rasulullah saw. memperhatikan kemiripan anak itu, memang ada kemiripan yang jelas dengan Utbah. Kemudian beliau bersabda: Dia adalah untukmu, wahai Abdu. Nasab seorang anak itu dari perkawinan yang sah, dan bagi pezina itu adalah batu rajam. Hindarilah wahai Saudah binti Zam`ah dari perkara tersebut!. (Shahih Muslim No.2645)
  • Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:
    Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Nasab anak itu dari perkawinan yang sah sedangkan bagi pezina itu adalah batu rajam. (Shahih Muslim No.2646)
8. Upaya menghubungkan nasab anak pada orang tuanya lewat ahlinya
  • Hadis riwayat Aisyah ra.:
    Bahwa Rasulullah saw. suatu hari datang menemuiku dengan gembira dan wajah berseri-seri lalu beliau bersabda: Apakah kamu tidak melihat tadi Mujazziz memandang Zaid bin Haritsah dan Usamah bin Zaid, lalu berkata: Sesungguhnya sebagian dari kaki-kaki ini berasal dari sebagian yang lain (mirip). (Shahih Muslim No.2647)
9. Tentang masa waktu seorang suami menetap bersama istrinya yang perawan atau janda setelah perkawinan
  • Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata:
    Termasuk sunah adalah bila seorang yang beristrikan janda menikahi gadis perawan, maka ia tinggal bersama gadis itu selama tujuh hari. Dan bila ia menikahi seorang janda setelah beristri gadis perawan, maka ia harus tinggal bersama janda itu selama tiga hari. (Shahih Muslim No.2654)
10. Seorang istri boleh memberikan gilirannya kepada madunya yang lain
  • Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata:
    Tidak ada seorang wanita pun yang paling aku senangi menjadi orang sepertinya selain Saudah binti Zam`ah karena ia adalah seorang wanita yang keras dan cepat marah. Aisyah berkata: Ketika sudah lanjut usia, Saudah memberikan harinya dengan Rasulullah saw. kepada Aisyah ra. Kata Saudah: Wahai Rasulullah, aku berikan hariku kepada Aisyah ra. Jadi Rasulullah saw. membagi waktu kepada Aisyah ra. dua hari, sehari miliknya sendiri dan sehari lagi pemberian Saudah. (Shahih Muslim No.2657)
  • Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata:
    Aku merasa sangat cemburu kepada wanita-wanita yang menyerahkan diri mereka untuk dinikahi Rasulullah saw. Aku berkata: Wanita-wanita telah menyerahkan diri mereka kepada Rasulullah saw. Namun ketika turun firman Allah Taala: Kamu boleh menangguhkan menggauli siapa yang kamu kehendaki di antara mereka (istri-istrimu) dan boleh pula menggauli siapa yang kamu kehendaki. Dan siapa-siapa yang ingin kamu gauli kembali dari perempuan yang telah kamu cerai. Aku (Aisyah) berkata: Demi Allah, aku melihat Tuhanmu selalu bersegera menuruti keinginanmu. (Shahih Muslim No.2658)
  • Hadis riwayat Ibnu Abbas ra.: Dari Atha, ia berkata:
    Kami bersama Ibnu Abbas menghadiri pemakaman jenazah di daerah Saraf. Ibnu Abbas berkata: Ini adalah jenazah istri Nabi saw. Apabila kamu mengangkat kerandanya, maka janganlah kamu goyangkan atau goncangkan, dan berhati-hatilah. Sesungguhnya Rasulullah saw. itu memiliki sembilan orang istri, beliau biasa menggilir yang delapan dan tidak menggilir yang satu. (Shahih Muslim No.2660)
11. Anjuran menikahi wanita yang beragama
  • Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:
    Dari Nabi saw. beliau bersabda: Wanita itu dinikahi karena empat perkara; karena harta bendanya, karena keturunannya, karena kecantikannya dan karena agamanya. Maka pilihlah wanita yang beragama, maka kamu akan beruntung. (Shahih Muslim No.2661)
12. Tentang wasiat terhadap kaum wanita
  • Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
    Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya wanita itu seperti tulang rusuk. Jika kamu berusaha meluruskannya, maka kamu akan mematahkannya. Tetapi kalau kamu biarkan saja, maka kamu akan menikmatinya dengan tetap dalam keadaan bengkok. (Shahih Muslim No.2669)
13. Seandainya tidak ada hawa, maka selamanya wanita tidak akan berkhianat kepada suaminya
  • Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:
    Dari Rasulullah saw. beliau bersabda: Seandainya tidak ada Hawa, niscaya wanita selamanya tidak akan berkhianat kepada suaminya. (Shahih Muslim No.2673)


Aneka Obat Tradisional Untuk anak


Berikut ini sejumlah obat dan bumbu dapur yang bisa digunakan sekaligus kegunaannya :

BAWANG MERAH
Untuk menurunkan demam, parut bawang merah secukupnya, balurkan ditubuh bayi/anak.

Untuk borok, 3 siung bawang merah dan 2 jari rimpang kunyit dicuci, diparut, lalu dicampur dengan 2 sendok minyak kelapa baru. Hangatkan diatas api kecil sambil diaduk. Setelah dingin, oleskan pada bagian tubuh yang sakit sebanyak 2 kali sehari.

Untuk masuk angin, 8 siung bawang merah, cuci, tumbuk halus, campur dengan air kapur sirih secukupnya. Balurkan dipunggung, leher, perut dan kaki.

JAHE
Untuk menghilangkan masuk angin, perut kembung dan kolik pada anak. Caranya 1/4 sendok teh bubuk jahe kering dilarutkan dalam 1/2 cangkir air panas. berikan 1-2 kali perhari sesuai umur.

KUNYIT (KUNIR)
Untuk diare, 1/2 jari kunyit dan 3 lembar daun jambu biji muda segar dihaluskan, campur dengan 1/2 cangkir air, lalu diperes. Setelah disaring, diminumkan pada anak.

Untuk kulit berjamur atau becak putih jamur/ruam popok karena pemakain diapers, parut kunyit lalu oleskan.

DAUN JAMBU BIJI (JAMBU KLUTUK, JAMBU BATU)
Untuk diare, 3 lembar daun jambu biji muda dan segar dicuci bersih, tumbuk halus, beri 1/2 cangkir air matang hangat, diperas dan diambil airnya, beri garam secukupnya sebelum diminumkan pada anak. Air perasan diberikan kepada anak sekehendaknya.

BELIMBING WULUH (BELIMBING ASAM,BELIMBING BULUK)
Biasanya digunakan untuk obat batuk anak, caranya kukus (dalam panci kecil tertutup selama beberapa jam) satu genggan (sekitar 11-12 gram)bunga belimbing wuluh segar, 5 butiradas, 1 sendok makan gula batu dan 1/2 gelas air. Saring dan minumkan pada anak (air perasan diberikan secukupnya ke anak)

MENGKUDU (PACE)
Untuk meringankan perut kembung pada bayi, caranya panaskan daun mengkudu diatas api beberapa saat, lalu oleskan minyak kelapa segar/yang baru. tempelkan pada perut anak sewaktu hangat. Bisa diulang beberapa kali.

KEMIRI
Berkasiat menyuburkan rambut bayi, caranya minyak kemiri dioleskan pada rambut bayi/anak sambil dipijat perlahan setiap malam. Pagi hari rambut disampho dan dibilas dengan air hangat sampai bersih.

AIR KELAPA MUDA
Dapat digunakan untuk obat muntaber karena air kelapa muda banyak mengandung mineral kalium, yang banyak keluar ketika anak muntaber. Dosisnya tak ada takaran, sekehendak anak.

BROTOWOLI (PUTRAWALI, ANDAWALI)
Untuk pemakaian luar bermanfaat menyembuhkan luka-luka dan gatal-gatal akibat kudis (scabies), caranya 2-3 jari batang brotowolu dipotong kecil-kecil, rebus dengan 6 gelas air. Setelah mendidih biarkan selama 1/2 jam . Saring air dan gunakan untuk mengobati luka serta gatal-gatal

Jumat, 21 Januari 2011

Nama Jin Penguasa Makhluk Halus Seluruh Pulau Jawa

pacitan barat(tanjung kodok) jin kendil kedalung
pacitan timur(daerah paloh) jin pande gongseng
blambangan(sinjang kertas) jin sinjang kertas
blitar(daerah lodoyo) jin setan kober
magelang(daerah sanggar seti) jin ayo tirun
demak(sekitar masjid agung) jin sigala-gala
mataram(alas mentawe) jin kala darbo
banyuwangi(pasar gede) danyang nyai ageng
semarang jin celu peteng
pekalongan jin kebo batuk
kediri jin butp locoyo
madiun jin kala lembugini
kedu jin klenting mungil
jipang jin sapu jagad
ponorogo danyang prabu yekso
pacitan jin sido garang
lawang jin dongeng kandu
lamongan jin secowani
segayu jin buto celerek
tuban jin buto slewah
rajeg wesi jin peliwet
madaeng jin dodogwari
ampel jin bedung sruwung
jabung jin mas putri luya
rembang jin kalangadang
jepara jin juru perniti
pati jin runggut muka
blora jin tegopati
solo jin prangmedali
kalangret jin malangrunggang
srengat jin batu kembar
cirebon jin langlang jagad
bogor jin jogopati
betawi jin sapu ringgit
banten jin kertal
lumajang jin buto lontong
tungging jin bang suwanoyo
gribig jin gajah bangkong
pasuruan jin kasetanan
gombong jin prempung
wonogiri danyang nyai kedumul
bakung danyang eyang klontong
gegelang jin bolorucit
magetan jin indro yekso
jember jin bali panggung
tegal jin kalalengayah&buto kretek
alas roban jin kertal cangkul
gunung gede danyang nyai les canggih
gunung lawu jin sapu barat
gunung pandan demit raden bagus
gunung perahu jin wirowari sepuringin
gunung senduro jin pujonggo,patih mando-mando
mojopahit ratu demit kala baurekso
brang kulon jin aryo kesih
tempuran setan putih
gendero jin lintang waluh
kaliwening jin cublek centong
malang kartubo jin blenderan
gegek jin rungkut muka
jenggolo jin tunjung puri
kedungwening jin sarpo yekso
G. penanggungan jin abur-abur
tanjung bang jin kalangada
G. ringgit jin prubo yekso
plered jin aridiro
kapunduk jin ondar-andir
pemancingan jin tanjung wareh
pasir jin setan tlogo
pejajaran jin kali loboyo
G.jumbri jin jogo`wesi
gunung tutur jin taliwangi
gunung astatu jin bologeni
gunung rawi jin loro gila
gunung wesi jin jaka pekik& bagus lintang
pegat danyang nyai denreauk
prapat kurung jin balapati
jagaraga jin garongkala
batu tukang jin gigik
trobo jin sontopura
wonoputih jin dadung awik
jenar jin galuh
woseban jin jaran sri
tlogoni jin ratupura
goa songo jin sabrang tandang
puspoloyo jin setewok
pring tulis jin bagus angrang
goalangse jin taden putri,gorowendro
wonokarang jin somohita
labuhan jin kimar bubuk &joyo rimbo
banyu merapi jin jin kuto...(tak terbaca)..nyo
tanjung demak jin sekar jati
pelabuhan bengawan jin darunani
lembah geni jin cublek
klemandingan jin dulep
kepared jin sipur setan
gunung tidar jin cingcing gelung

di ambil dari terjemahan tulisan sunan drajat yang di ketemukan oleh KH.Abg Ghofur

Beberapa Obat Tradisional yg dpt dimanfaatkan

Beberapa Obat Tradisional

1. Penyakit nyeri sendi, tulang, dan otot

Penyakit nyeri sendi dan otot banyak diderita orang berusia lanjut. Obat tradisional dapat dimanfaatkan sebagai obat pengganti atau sebagai obat penunjang dari obat moderen. Penggunaannya pada umumnya cukup aman, tetapi penggunaan oleh penderita gastritis kadangkala menimbulkan keluhan nyeri lambung pada obat tradisional yang mengandung jahe sebagai bahan penyusunnya.

Ramuan luar

Bahan:

1. Daun gandarusa segar 25 lembar
2. Kapur sirih 1 sendok teh
3. Air secukupnya

Cara pembuatan & pemakaian:
Daun gandarusa ditumbuk halus, campurkan kapur sirih beserta air secukupnya sehingga menjadi adonan. Campuran berupa adonan dilumurkan pada bagian badan yang sakit 2 x sehari.

Catatan:
beberapa bahan lain yang dapat dipakai sebagai ramuan luar adalah tumbukan jahe, tumbukkan beras, dan kencur.

Ramuan minum 1

Bahan:
Puyang 1 ibu jari
temulawak 2 ibu jari
Gula merah secukupnya
Air 2 gelas

Cara pembuatan dan pemakaian:
Puyang dan temulawak dicuci bersih, kupas, dan iris tipis-tipis. Kedua bahan ditambah gula merah dan air direbus sampai diperoleh 1 gelas ramuan.
Diminum 2 kali _ gelas sehari , pagi dan malam sebelum tidur.

Ramuan minum 2

Bahan:
Kencur 10 biji
Jahe 2 jari tangan
Kayu manis 1 jari tangan
Cengkeh (bunga) 10 biji
Air 3 gelas

Cara pembuatan & pemakaian:
Semua bahan dicuci bersih. Kencur dan jahe diiris tipis-tipis dan kemudian campurkan dengan bahan yang lain dan direbus. Air rebusan sisakan sampai menjadi 1 _ gelas .
Diminum 3 x _ gelas , dapat ditambahkan madu atau gula batu

Catatan:
Pada penderita yang diketahui mempunyai asam urat tinggi dapat ditambahkan daun salam sebanyak 5 lembar.

2. Diabetes mellitus (kencing manis)

Penyakit diabetes mellitus (DM) membutuhkan pengelolaan yang banyak melibatkan penderita. Latihan fisik dan diet teratur serta bebas gula merupakan hal pokok yang harus dilakukan oleh penderita diabetes melitus. Obat tradisional dapat dimanfaatkan pada penderita DM yang tergolong ringan atau sebagai obat penunjang obat moderen pada kasus DM yang sulit turun dengan obat moderen, atau sebagai obat pengganti obat moderen karena adanya efek samping. Penggunaan obat tradisional harus dengan pengawasan tenaga kesehatan melalui konsultasi, pemeriksaan fisik, maupun pemeriksaan laboratoris.

Ramuan 1

Bahan:
Daun salam 10 lembar
Daun sambiloto 1 genggam
Air 2 gelas
Cara pembuatan & pemakaian:
Campur seluruh bahan dan rebus sampai tersisa 1 gelas. Ramuan diminum pagi dan sore masing-masing _ gelas.

Ramuan 2

Bahan:
Biji lamtoro atau petai cina yang sudah tua 3 genggam

Cara pembuatan:
Disangrai atau digoreng tanpa minyak. Setelah kering kemudian digiling halus. Simpan dalam toples.

Cara pemakaian:
Ambil satu sendok teh serbuk, rendam dalam air panas setengah cangkir. Biarkan selama 2-3 jam. Saring dan diminum 1/2 jam sebelum makan. Lakukan 2 - 3 kali sehari

Catatan:
dapat digunakan bahan lain dengan cara yang sama yaitu biji mahoni dengan cara pemakaian, 1/2sendok teh serbuk biji mahoni diseduh dengan sepertiga cangkir air panas. Diamkan selama beberapa jam, saring dan diminum 1/2jam sebelum makan. Lakukan 2-3 kali sehari.

3. Hipertensi (Tekanan darah tinggi)

Penderita hipertensi seringkali harus minum obat seumur hidup. Kejenuhan terhadap obat moderen seringkali mengalihkan penderita hipertensi untuk menggunakan obat tradisional. Penggunaan obat tradisional untuk hipertensi perlu pengawasan dari tenaga kesehatan. Kontrol rutin untuk mengetahui tekanan darah dan keadaan fisik yang lain perlu ditekankan pada penderita hipertensi yang menggunakan obat tradisional agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.

Ramuan minum 1

Bahan:
Buah mengkudu/pace sebanyak 1 buah ukuran sedang yang sudah cukup tua (masak).

Cara pembuatan & penggunaan:
Cuci bersih dan diiris-iris atau diparut, kemudian peras airnya. Air perasan diminum sekaligus. Diminum 2-3 x sehari

Catatan:
ramuan diatas dapat dikombinasi dengan daun kumis kucing sebanyak 15 – 20 lembar dengan cara direbus.

Ramuan minum 2

Bahan:
Daun apokat segar 5 - 7 lembar.

Cara pembuatan & penggunaan:
Cuci bersih, tambahkan air 2 gelas kemudian rebus sampai diperoleh 1 gelas larutan. Minum sekaligus atau dibagi menjadi 2 kali minum pagi dan sore.

Tanaman lain yang dapat dimanfaatkan untuk menurunkan tekanan darah tinggi :
1. Daun seledri (15 batang direbus, diminum airnya dibagi untuk 2 kali minum sehari atau dimakan dengan seluruh daunnya).
2. Buah belimbing masak (dimakan 3-6 buah sehari).
3. Buah belimbing wuluh (3 buah direbus dan diambil airnya, diminum setelah makan pagi).
4. Umbi bawang putih (2 siung dikunyah dan ditelan dan minum air matang 1 cangkir, lakukan 3 x sehari).
5. Mentimun (dimakan atau diambil airnya, 2-3 x 2 buah sehari).

4. Batuk dan batuk asma

Batuk pilek dapat diobati dengan obat tradisional seperti contoh di bawah ini.

Ramuan minum

Bahan:
Bunga belimbing wuluh 1 genggam
bawang merah 1 siung
Biji pala _ biji
Gula batu& 1 sendok makan
Air matang _ gelas

Cara pembuatan:
Seluruh bahan dicuci, bawang merah diiris menjadi empat, buah pala ditumbuk.
Seluruh bahan dimasukkan dalam mangkok, kemudian dikukus. Setelah dikukus, bahan tersebut diperas saring campur dengan air matang .

Cara pemakaian:
Diminum pagi dan malam masing-masing satu ramuan.
Sedangkan batuk yang disertai dengan asma (napas berbunyi), apabila masih ringan dapat dicoba diobati dengan ramuan berikut ini. Bila sesak semakin hebat atau tidak ada perkembangan membaik setelah diobati selama 3 hari, maka penderita asma harus segera berobat ke tenaga kesehatan.

Bahan:
Patikan kebo 7 pohon
Pegagan 1 genggam
Kencur 3 jari
Gula batu secukupnya
Air matang 1 cangkir

Cara pembuatan & pemakaian:
Seluruh bahan dicuci bersih, tambah sedikit air matang kemudian ditumbuk. Tambahkan sisa air kemudian disaring. Bagian bening ditambah dengan gula batu. Minum seluruh ramuan. Diulang setiap hari sampai sembuh.

5. Gangguan saluran pencernaan

Gangguan pencernaan makanan dapat berupa : Sulit buang air besar/sembelit, perut kembung, sakit mag, dan perut mulas tanpa diare . Ramuan berikut ini dapat dicoba untuk digunakan.

a. Perut mulas (tanpa diare)

Ramuan minum

Bahan:
- Gula pasir _ sendok makan
- Minyak kayu putih

Cara pembuatan & pemakaian:
Gula pasir ditetesi minyak kayu putih, campur. Dimakan, disertai minum teh manis.

b. Maag

Keluhan:
nyeri lambung/ nyeri ulu hati, kembung, mual.

Ramuan minum

Bahan:
Temulawak 2 jari tangan
Pisang klutuk 1 buah
Air 3 gelas

Cara pembuatan & pemakaian:
Pisang klutuk muda diiris tipis-tipis dan dijemur (dapat disimpan untuk sewaktu-waktu dibutuhkan). Temulawak diiris dan dicampur pisang klutuk, tambahkan air, dan direbus sampai tersisa 1 _ gelas. Diminum 3 kali 1/2gelas sebelum makan.

c. Sembelit

Selain minum obat tradisional di bawah ini, juga harus disertai diet tinggi serat dan banyak minum air.

Ramuan minum

Bahan:
Daun saga 1 genggam
Temulawak 1 jari
Asam kawak 3 biji
Air 2 gelas

Cara pembuatan & pemakaian:
Seluruh bahan dicampur dan direbus sampai tersisa 1 gelas. Minum seluruh ramuan pada pagi hari sebelum makan.

d. Perut kembung

Ramuan minum

Bahan:
Biji kedawung secukupnya.

Cara pembuatan & pemakaian:
Biji kedawung disangrai. Buang kulit luarnya, isinya ditumbuk sampai halus. Campur 2 sendok serbuk dengan air dan diminum 2 kali sehari.

Ramuan 2

Bahan :
Daun sembukan 25 lembar
Cara pembuatan & pemakaian:
Daun dimasak, dimakan sebagai sayur

6. Kesehatan Gigi dan Mulut

a. Sakit gigi

Obat tradisional untuk sakit gigi merupakan pertolongan pertama menghilangkan nyeri pada gigi berlubang. Selanjutnya, gigi harus diperiksakan kepada dokter gigi untuk mendapat penanganan lebih lanjut.

Ramuan luar 1

Bahan:
Cengkeh (bunga) beberapa biji

Cara pembuatan & pemakaian:
Cengkeh disangrai, jangan sampai hangus, haluskan. Bubuk cengkeh dimasukkan ke dalam lubang gigi. Tutup dengan kapas. Atau, kapas dibasahi dengan minyak cengkeh (membeli), kemudian masukkan ke dalam gigi berlubang.

Ramuan luar 2 (obat kumur)

Bahan:
Daun sirih2 lembar
Garam_ sendok teh

Cara pembuatan & pemakaian:
Daun sirih diremas, kemudian diseduh dengan air panas 1 gelas tambahkan garam. Aduk sampai garam larut dan diamkan sampai dingin. Dipakai untuk berkumur.

b. Sariawan

Ramuan minum

Bahan:
Daun poko10 - 20 lembar
Kayu legi 1 potong sepanjang 10 cm
Daun saga segar_ genggam
Daun sirih 3 lembar
Air2 gelas

Cara pembuatan & pemakaian:
Seluruh bahan direbus, didihkan sampai tinggal 1,5 gelas
Minum ramuan sedikit demi sedikit sampai habis dalam satu hari.

7. Menopause

Ramuan untuk wanita yang sudah mengalami menopause ini bermanfaat untuk menghilangkan keluhan yang sering timbul berupa rasa penat di tubuh dan akan memperbaiki pencernaan dan nafsu makan serta agar dapat tidur nyenyak.

Ramuan

Bahan:
Temulawak1 jari
Jahe1 jari
Biji pala _ buah
Biji ketumbar 1/2 sendok teh
Daun lampes10 lembar
Air 2 gelas

Cara pembuatan & pemakaian
Rebus seluruh bahan sampai tersisa 1 gelas air. Dapat diberi gula batu secukupnya. Minum 1 ramuan setiap hari

8. Gangguan Tidur

Gangguan tidur dapat menggunakan ramuan sebagai berikut:

Ramuan

Bahan:
Temulawak1 jari
Kencur 1 jari
Biji pala _ buah
Air 2 gelas

Cara pembuatan & pemakaian:
Rebus seluruh bahan sampai tersisa 1 gelas air. Dapat diberi gula batu secukupnya. Minum 1 ramuan setiap hari malam hari sebelum tidur

9. Pemeliharaan kesegaran tubuh

Pada usia lanjut telah terjadi penurunan fungsi dari organ tubuh, sehingga seringkali mudah merasa lelah. Jamu di bawah ini sangat tepat untuk diminum karena khasiatnya yang baik untuk menjaga kesegaran jasmani pada usila.

a. Beras kencur

Beras kencur dapat meningkatkan nafsu makan, menghilangkan pegal dan penat seluruh tubuh.

Bahan:
- Beras 3 sendok makan
- Asam kawak sebesar 3 butir kelereng
- Kencur 8 jari
- Gula jawa secukupnya sesuai selera
- Kapulogo 2 biji
- Garam secukupnya
- Jahe 2 ibu jari
- Air5 gelas belimbing
- Buah jeruk nipis1 buah

Cara pembuatan & pemakaian
Masukkan air ke dalam panci bersama gula jawa dan asam kawak, kemudian direbus sampai mendidih sambil diaduk agar seluruh bahan larut. Setelah mendidih angkat, tambahkan sedikit garam dan biarkan dingin. Beras direndam dengan air matang. Jahe, kencur dicuci bersih, kupas dan cuci sekali lagi. Seluruh bahan dicuci dengan air panas kemudian tiriskan dan ditumbuk/diblender. Bahan yang sudah halus diperas dan langsung dicampurkan ke dalam larutan gula asam sambil diaduk. Terakhir tambahkan air buah jeruk nipis secukupnya. Diminum 1 - 2 gelas sehari.

b. Cabe puyang

Menghilangkan pegal dan linu di tubuh

Bahan:
- Cabe jawa kering8-10 biji
- Gula jawa secukupnya sesuai selera
- Puyang4 ibu jari
- Garam secukupnya
- Kencur4 jari
- Asam kawak3 biji kelereng
- Kunir_ ibu jari
- Air 5 gelas belimbing
- Beras (sebelumnya direndam air matang)3 sendok makan

Cara pembuata & pemakaian:
Masukkan air ke dalam panci bersama gula jawa dan asam kawak, kemudian direbus sampai mendidih sambil diaduk agar seluruh bahan larut. Setelah mendidih angkat, tambahkan sedikit garam, dan biarkan dingin. Puyang, kunir, kencur cuci bersih kupas, dan cuci sekali lagi. Seluruh bahan dicuci dengan air panas kemudian tiriskan dan ditumbuk/diblender.Bahan yang sudah halus diperas, dan langsung dicampurkan kedalam larutan gula asam sambil diaduk. Minum : 1 - 2 gelas sehari

10.Perawatan perorangan

Dibutuhkan perawatan tubuh untuk menjaga kesehatan kulit, rambut, dan menghilangkan bau badan guna meningkatkan penampilan. Perawatan diri dapat dilakukan dengan mandi sauna 1 kali sebulan untuk menyegarkan tubuh dan menghilangkan bau badan. Di samping itu, perawatan rambut seminggu 2 kali sangat baik untuk mencegah kerontokan dan menjaga kesehatan rambut dengan menggunakan tanaman obat.

a. Mandi sauna
Untuk mandi sauna dapat digunakan bahan-bahan sebagai berikut: daun beluntas secukupnya, bunga mawar atau melati secukupnya, dan minyak kayu putih 3 - 4 tetes. Dimasukkan dalam air panas/mendidih sebanyak 5 liter/1 ember. Duduk di kursi atau bangku dari rotanyaman atau yang berlubang-lubang dan letakkan ember berisi ramuan dan air panas di bawahnya. Tutup seluruh tubuh mulai leher sampai kaki dengan kain sarung sehingga uap air tidak keluar. Untuk menghilangkan bau badan, selain dengan mandi sauna juga dapat dimakan daun beluntas sebagai sayuran.

b. Pemeliharaan rambut
- Untuk mencuci rambut dapat digunakan rendaman air abu tangkai buah padi kering (merang) sebagai ganti shampo. Kemudian bilas dengan air sampai bersih. Bilas lagi dengan air jeruk purut (1 buah diencerkan kedalam 4 gelas air), dan terakhir bilas dengan air.
- Mencegah rambut rontok dapat digunakan minyak kemiri buatan sendiri. Bahan biji kemiri sebanyak 100 biji yang dilumat dengan air 2 gelas, kemudian dididihkan sampai keluar minyak. Saring dan minyak yang dihasilkan digosokkan pada kulit kepala 2-3 kali seminggu.